Kreatifitas Maba STIT Ibnu Sina Malang Sebagai Agen Of Change dalam Menerapkan Budaya Islami dan Sain pada Era Society 5.0
Seiring berjalannya revolusi industry 4.0, maka eksistensi
masyarakat pun mengalami tranformasi dari masa ke masa dan kondisi
sosial masyarakat ikut berubah. dikutip dari artikel Mayumi Fukuyuma
pada laman Japan Economi Foundation VOA, pemerintah Jepang telah
memperkenalkan konsep society 5.0 pada januari 2019, di mana
digitalisasi diaplikasikan lebih intens dan berpusat pada kehidupan
manusia dengan tujuan untuk mewujutkan manusia menikmati kehidupannya,
keseimbangan solusi atas permasalahan sosial dan kemajuan digital
ekonomi.
Ketua STIT IBNU SINA MALANG, Dr. Noer
Rohmah, M.Pd dalam rangka pelaksanaan kegiatan Orientasi Study
Pengenalan Kampus menyampaikan, bahwa kampus bisa mengikuti kemajuan
teknologi tanpa mengesampingkan norma-norma Agama, adat istiadat dan
sosial budaya. Dan kampus harus mampu melahirkan generasi muda aktif,
kreatif, berkompeten, serta mampu menciptakan kolaborasi yang positif di
era digitalisasi untuk sebuah perubahan yang baik serta bermanfaat bagi
masyarakat.
Kreatifitas penerapan budaya
islami dan sain yang dilakukan oleh Maba Ibnu Sina di lingkungan
masyarakat sekitar merupakan cerminan mahasiswa masa kini yang masih
melestarikan budaya, adat istiadat, Agama dan sopan santun baik sesama
mahasiswa atau pun pada masyarakat di era society 5.0.
Masyarakat
5.0 atau yang dikenal era society 5.0 adalah masyarakat yang dipandang
dapat menyelesaikan berbagai tantangan dan permasalahan sosial dengan
memanfaatkan beragam inovasi melalui internet.
Mahasiswa
sebagai generasi agen perubahan aktif berinovasi dalam masyarakat
melalui perlakuan dan sikap mereka tentang generasi muda yang siap
bersaing untuk mengembangkan sain di masa era society 5.0 dengan tetap
mewujutkan budaya Islami mereka.
Sikap
sopan santun dan perilaku hormat menghormati pada masyarakat yang
ditunjukkan oleh mahasiswa untuk memberikan pemahaman pada masyarakat
tentang integrasi Islam dalam ragam keilmuan bahwa kemajuan zaman tidak
dapat mempengaruhi adat budaya Islami mereka. Kemajuan teknologi
dimanfaatkan oleh mereka sebagai bekal bagi seorang pemuda muslim yang
intelektual dan Islami dalam menghadapi masyarakat 5.0 pada era revolusi
industry 5.0.
Hal tersebut dilakukan untuk
menjaga budaya Islam dan memperkokoh pondasi keislaman bagi generasi
muda agar dapat berkontribusi secara ilmiah dan tidak meninggalkan
nilai-nilai keislaman. Sebuah perubahan zaman bukan berarti merubahi
adat, budaya, Agama dan norma-norma sosial seseorang. oleh: Marwani, S.
Pd., M. Pd
Berita Lainnya
- Jurnal Tarbiyatuna: Jurnal Pendidikan Ilmiah naik Peringkat Akreditasi Sinta 3 26/04/2026
- KKN STIT IS di desa Wonosari menggelar kegiatan workshop "Penanaman Akhlakul Karimah Pada Anak Usia Dini" 10/02/2026
- Mahasiswa KKN STIT Ibnu Sina Ikut Kerja Bakti Bersihkan Makam Dusun Babadan 09/02/2026
- STIT Ibnu Sina Malang Gelar Pembekalan KKN Tahun Akademik 2025–2026 15/01/2026
- STIT Ibnu Sina Malang Gelar Seminar Bertema "Literasi Waqaf Produktif dan Waqaf Bidang di Lingkungan Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (NU)" 28/10/2025
- Gelar Wisuda 2025: Sarjana STIT Ibnu Sina Malang Siap Menjadi Agen Perubahan 20/10/2025
