MEMBANGUN KEHARMONISAN DALAM KEMAJEMUKAN.
Oleh : Marita Restyani *
Kampus STIT Ibnu Sina
Malang baru-baru ini menyelenggarakan acara Halal-Bihalal dan Kuliah Terbuka
dengan Tema “ Membangun Kehrmonisan Dalam
Kemajemukan” pada hari Minggu, 28 April 2024 bertempat di Aula STIT Ibnu
Sina . Acara ini dihadiri oleh Gus Ahmad Mudhofir Zuhri (Penulis Buku “Filsafat
Untuk Pemalas”) selaku Pembicara dalam acara tersebut. Kegiatan ini bertujuan
untuk menyambung silaturrohim antar Dosen, Mahasiswa juga Alumni STIT Ibnu
sina.
Kemajemukan adalah realitas yang tak terhindarkan dalam masyarakat
modern. Beragamnya latar belakang budaya, agama, bahasa, dan kepercayaan
merupakan ciri khas dari masyarakat yang inklusif. Dalam Pembukaan acara Ibu Dr.Noer.Rohmah,
M.PdI. selaku Ketua STIT Ibnu Sina mengingatkan pentinganya untuk menjaga keharmonisan
dalam perbedaan. Beliau Mengatakan“Indonesia
sudah dari dahulu majemuk (bersuku-suku dan berbangsa-bangsa) untuk menghindari
perpecahan antar bangsa kita harus toleransi, karena banyak perpecahan yang
terjadi di Indonesia yang salah satu penyebabnya adalah Intoleransi “.
Selanjutnya dalam kegiatan inti Gus Ahmad Mudhofir
menyampaikan materi dengan diawali kutipan ayat Al-Qur’an yakni QS.Muhammad :
22 yang artinya “Maka apakah sekiranya kamu berkuasa,
atau jika kamu berpaling dari iman, kamu akan berbuat kerusakan di bumi,
menumpahkan darah, dan memutuskan hubungan kekeluargaan .”
Apakah
ketika seseorang memiliki kekuasaan, wewenang, popularitas, pengetahuan,
gelar, kekayaan kalian berpaling dari
agama tuhan lantas merusak bumi, merusak ekosistem, merusak kebhinekaan dan
memutuskan silaturromi. beliau menjelaskan bahwa ketika seseorang sudah menjadi
tokoh atau sudah berproses setelah menjadi apa lalu memiliki a, b, c kemudian
mereka merusak bumi dan bersikap intoleran. Dalam artian kerusakan muka bumi
yang mencederai kebhinekaan itu semua diprakrasai oleh mereka yang memiliki
pengetahuan. Dan itu semua merupakan prodak Pendidikan. Maka ketika banyak
produk-produk perguruan tiiggi yang rusak berarti ada yang salah dari
pendidikan , baik itu ajaran pekertinya, moralitas maupun tidak menghargai
pendidikan itu sendiri.
Kesimpulan nya adalah ada tiga poin penting yang saya ambil dari keseluruhan materi yang beliau sampaikan yakni IMAN, ILMU, dan AKHLAK . Dimana Iman dan Ilmu ada tempat sekolahnya baik itu, dari pendidikan terendah sampai perguruan tinggi, sedangan akhlak tidak cukup hanya ditempat belajar namun harus tetap dibawa sampai mati. Dan Akhlak inilah yang akan membuat seseorang memiliki hati yang mulia dan akan melahirkan sifat-sifat baik lainnya ( Tasamuh, Ta’awun, sabar, Jujur, Bertanggung Jawab).
Dengan demikian, kegiatan ini memberikan pemahaman mendalam tentang peran serta tanggung jawab dalam Membangun keharmonisan dalam kemajemukan adalah tugas bersama yang membutuhkan komitmen dari setiap individu dan kelompok dalam masyarakat. Dengan menghargai perbedaan, membangun kesadaran, Menyambung Silaturrohmi dan tidak merusak kebhinekaan , kita dapat menciptakan lingkungan yang inklusif dan damai bagi semua orang. Dan itu semua bisa dicapai ketika seseorang memiliki akhlak dan pekerti yang baik.
Berita Lainnya
- Pendaftaran Mahasiswa Baru STIT Ibnu Sina Kepanjen Malang Tahun Akademik 2026/2027 Resmi Dibuka! 09/05/2026
- Jurnal Tarbiyatuna: Jurnal Pendidikan Ilmiah naik Peringkat Akreditasi Sinta 3 26/04/2026
- KKN STIT IS di desa Wonosari menggelar kegiatan workshop "Penanaman Akhlakul Karimah Pada Anak Usia Dini" 10/02/2026
- Mahasiswa KKN STIT Ibnu Sina Ikut Kerja Bakti Bersihkan Makam Dusun Babadan 09/02/2026
- STIT Ibnu Sina Malang Gelar Pembekalan KKN Tahun Akademik 2025–2026 15/01/2026
- STIT Ibnu Sina Malang Gelar Seminar Bertema "Literasi Waqaf Produktif dan Waqaf Bidang di Lingkungan Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (NU)" 28/10/2025