MUNGKIN KITA HANYA KURANG BERSERAH
Mungkin Kita Hanya Kurang Berserah mengajak pembaca untuk merenungkan kembali hubungan antara ikhtiar dan tawakal dalam menjalani kehidupan. Di tengah kebiasaan overthinking dan keinginan mengendalikan segala hal, sering kali kita lupa bahwa tidak semua hal berada dalam kuasa manusia. Artikel ini mengingatkan bahwa setelah melakukan usaha terbaik, ada saatnya hati belajar menerima dan menyerahkan hasil kepada Allah. Ketenangan sejati tidak lahir dari kemampuan mengendalikan masa depan, melainkan dari keyakinan bahwa setiap ketetapan-Nya mengandung kebaikan yang mungkin belum kita pahami saat ini.
Mungkin Kita Hanya Kurang Berserah
Oleh : Marita Restyani
Pernahkah kamu menggenggam tanganmu sendiri? Saat itu, garis-garis di telapak tangan akan tertutup, namun masih ada sebagian garis yang tetap terlihat di luar genggaman. Artinya Adalah , garis yang tertutup melambangkan usaha yang berada dalam kendali kita, sedangkan garis yang tetap terlihat di luar menggambarkan kehendak Allah yang tidak bisa kita kuasai. Kita tidak bisa menjalani hidup hanya dengan mengandalkan usaha semata, melainkan perlu keseimbangan antara ikhtiar dan ketentuan dari Allah.
Kita berada di zaman yang sangat mengagungkan kontrol. Kita diajarkan bahwa kita memiliki kendali atas masa depan, bahwa persiapan yang baik adalah faktor penting untuk mencapai kesuksesan, dan bahwa setiap aspek kehidupan harus dapat diprediksi. Namun, pernahkah Anda merasakan bahwa semakin Anda berusaha keras untuk berpikir, semakin hilang ketenangan itu? Semakin rumit rencana yang Anda buat, semakin kuat rasa cemas yang menyertai jika ada satu hal kecil yang tidak sesuai harapan?
Mungkin, selama ini beban yang kita bawa terasa sangat berat bukan karena masalah itu sendiri terlalu besar, tetapi karena kita terlalu enggan untuk melepaskannya. Mungkin, kita hanya kurang berserah.
Overthinking sering kali menyamar sebagai "sikap waspada". Kita merasa dengan memikirkan kemungkinan terburuk berkali-kali, kita sedang bersiap diri. Padahal, yang terjadi justru sebaliknya: kita sedang menyiksa diri atas peristiwa yang bahkan belum tentu terjadi. Kamu perlu percaya bahwa setiap hal yang kamu persiapkan dengan baik hasilnya akan baik, sambil menyiapkan Solusi atas kemungkinan terburuk. Akar dari pikiran yang berisik ini biasanya adalah rasa takut akan ketidakpastian. Kita ingin memegang kendali penuh atas hidup, seolah-olah kita adalah sutradara tunggal dalam skenario semesta ini. Kita lupa bahwa ada batasan yang jelas antara wilayah usaha manusia dan wilayah ketetapan Tuhan.
Berserah diri atau bertawakal bukanlah tindakan menyerah tanpa syarat atau duduk diam tanpa berusaha. Sebaliknya, berserah merupakan puncak dari sebuah perjalanan perjuangan.
Bayangkan seseorang yang telah menanam biji dengan sebaik mungkin, memberikan pupuk, dan menyiramnya setiap hari. Setelah semua usaha dilakukan, dia tidak lagi merasa cemas tentang apakah besok matahari akan muncul atau apakah hujan akan jatuh. Dia menyerahkan hasilnya kepada alam. Inilah inti dari berserah: melakukan apa yang bisa kita lakukan secara maksimal, lalu membiarkan Tuhan mengurus sisanya.
Saat kita kurang berserah, kita sebenarnya membawa beban yang bukan bagian kita. Kita berusaha menjadi "pengelola semesta" dalam kehidupan kita, padahal kemampuan kita sangat terbatas. Belajar untuk berserah adalah suatu proses yang berlangsung seumur hidup. Langkah pertama adalah menyadari bahwa kendali kita ada batasnya. Kita mungkin dapat mengendalikan tindakan kita, tetapi kita tidak pernah bisa sepenuhnya mengendalikan hasil akhirnya. Karena terkadang apa yang menurut kita baik belum tentu baik menurut Allah, Begitu sebaliknya apa yang menurut kita buruk belum tentu buruk di mata Allah.
Cobalah untuk menarik napas dalam-dalam ketika pikiran mulai gaduh. Katakan pada diri sendiri: "Tugas saya adalah berusaha, yang lainnya adalah wilayah Sang Pemilik Skenario. " Pada akhirnya, ketenangan tidak muncul dari selesainya semua masalah, melainkan dari keyakinan bahwa apapun yang terjadi, kita akan baik-baik saja karena kita berada dalam perlindungan-Nya. Mungkin, kebahagiaan yang kita cari tidak terletak pada jawaban semua pertanyaan kita, tetapi pada keberanian kita untuk berhenti bertanya dan memulai untuk percaya.